Wednesday, April 30, 2014

Rasa Kantuk itu Ternyata Anugerah dan Karomah bagi Mujahidin

Rasa Kantuk itu Ternyata Anugerah dan Karomah bagi Mujahidin

Oleh: Ahmed Widad

karomah-di-bumi-syam.blogspot.com - Rasa kantuk atau ngantuk pada dasarnya sesuatu yang bersifat naluriah, dialami oleh manusia. Wajar bila rasa kantuk itu datang ketika dalam keadaan santai atau dikala seseorang menjalani kehidupan normal dan biasa-biasa saja.

Tapi bagaimana mungkin rasa kantuk itu datang ketika nyawa seseorang dalam keadan terancam? Sebagian orang mungkin menilai hal itu mustahil.

Bagi Allah, tentu tak ada yang mustahil. Justru rasa kantuk yang datang di saat-saat menegangkan itu merupakan anugerah atau nikmat bagi hambaNya yang tengah berjihad fi sabilillah.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imran ayat 154

Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah…
Di sinilah uniknya, dalam situasi perang yang tak seimbang dimana kekuatan musuh jauh lebih besar, Allah menganugerahkan ketenangan dan keamanan kepada hamba-hambaNya yaitu berupa kantuk yang menghinggapi mereka ketika mereka masih memanggul senjata, pada saat di mana mereka masih bersedih dan berduka. Rasa kantuk dalam kondisi demikian itu menciptakan rasa aman.

Al-Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut

“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu.”

Yakni orang-orang yang penuh keimanan, keyakinan, keteguhan dan tawakkal yang sungguh-sungguh. Dan mereka benar-benar yakin bahwa Allah akan menolong Rasul-Nya dan mengabulkan permohonannya.

Sedangkan firman Allah

“Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri.”
Yaitu, golongan ini tidak dihinggapi rasa kantuk (yang melindungi mereka) dari kecemasan, kegelisahan dan ketakutan.

Ayat senada juga Allah firmankan dalam dalam surat Al-Anfal berkenaan dengan kisah perang Badar.

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Q.S. Al-Anfal: 11).

Dalam hadits dikisahkan:
Kami mendapati rasa kantuk yg sangat pada waktu kami dalam barisan perang Badar, lalu Abu Thalhah berkata, ‘sehingga pedangku terjatuh dari tanganku, lalu aku mengambilnya, lalu jatuh kembali dan kembali aku mengambilnya. ‘ [HR. Bukhari No.4196].

Sufyan Ats Tsauri berkata dari ‘Ashim dari Abu Razin, dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa ia berkata; “Rasa kantuk dalam peperangan adalah rasa aman yang datangnya dari Allah Ta’ala, sedangkan rasa kantuk dalam shalat datangnya dari syaitan.” Qatadah berkata; “kantuk itu ada di kepala, sedangkan tidur ada di hati.”

Al-Imam Ibnu Katsir pun kembali menegaskan dalam menafsirkan surat Al-Anfal ayat 11 di atas:
“Kantuk itu telah menimpa kaum mukminin pada perang Uhud dan hal ini sangatlah terkenal, adapun ayat yang mulia ini tidak lain berbicara dalam konteks kisah perang Badar, ini menunjukkan rasa kantuk pun terjadai pada perang Badar dan seakan hal ini terjadi pada orang-orang beriman di saat-saat berkecamuknya peperangan, agar hati mereka menjadi tenang dan tenteram dengan pertolongan Allah dan hal ini adalah anugerah, kasih sayang dan kenikmatan dari Allah kepada mereka, sebagaimana firmanNya:
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S. Alam Nasyrah: 5-6). “

Subhanallah, ternyata turunnya rasa kantuk kepada para mujahidin yang tengah berperang tak hanya terjadi di masa Rasulullah dan para sahabat, tetapi juga terjadi dalam peperangan masa kini.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Asy Syahid (insya Allah) Syaikh Abdullah Azzam dalam kitabnya yang masyhur, Ayaturrahman fi jihadil Afghan. Beliau pun menganggap bahwa turunnya rasa kantuk itu merupakan bagian dari karomah.

“Adapun dengan rasa kantuk yang muncul, itu adalah untuk memberikan waktu istirahat bagi jiwa dan menumbuhkan rasa aman di dalam hati mereka serta mengokohkan kaki-kaki mereka. Allah SWT berfirman,
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentramanan daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). (QS. Al Anfal: 11)
Berapa banyak mujahidin Afghanistan yang bercerita kepada saya bahwa dia tertidur di bawah peluru-peluru yang menyerbu dari senjata-senjata berat dan juga geranat dan bom yang dilemparkan dari pesawat-pesawat tempur. Kemudian setelah itu dia bangun dengan semangat baru dan cita-cita yang tinggi serta seketika itu rasa sedih dan takut hilang, padahal sebelumnya menyelimuti hati mereka !!
Allah SWT menguatkan hati mereka dengan karomah-karomah yang turun. Cobalah perhatikan ayat di dalam firman Allah SWT, pada kalimat :
…dan untuk menguatkan hatimu…
Hati ini seakan-akan sedang memikul beban berat tanpa ada pengikat dan pengokoh beban tersebut, yang semestinya dibawa oleh seekor unta atau hewan tunggangan. Kemudian karomah-karomah itu datang menguatkan dan meneguhkan hati kami sehingga hilang rasa takut dan gelisah.” Demikian penuturan Syaikh Abdullah Azzam, sang pionir jihad abad dua puluh.

Tak diragukan lagi, rasa kantuk yang terkadang dianggap sebagai fenomena biasa, naluriah bahkan dianggap remeh, ternyata merupakan rahmat dari Allah kepada para mujahidin dan tentu tak setiap orang Allah karuniakan rasa kantuk tersebut kecuali mereka yang dikehendakiNya. Semoga ulasan singkat ini bisa diambil hikmahnya. Wallahu a’lam.

Inilah Karomah Terbesar yang Dimiliki Penduduk Muslim Suriah

Inilah Karomah Terbesar yang Dimiliki Penduduk Muslim SuriahBEKASI  – Ahad (01/12/13) HASI (Hilal Ahmar Society Indonesia) bersama dengan lembaga yang lain memberikan pencerahan kepada muslimin dengan menyelengggarakan bedah buku Ayaturrahman fi Jihad Suriah (Kebesaran Allah pada Jihad Suriah)di Masjid Agung Al-Barkah, alun-alun Kota Bekasi.
Sebelumnya  sudah mengutip perkataan Ustadz Umar Mita bahwa tanah Syam, termasuk Suriah, adalah tanah yang diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’aala. Dan bahwasanya keberkahan yang diberikan oleh Allah kepada Suriah adalah berupa ujian untuk meningkatkan keimanan mereka sehingga mereka menjadi hamba-hamba Allah pilihan. Dan dalam jihad Suriah pun Allah turunkan karomah sebagai pertolongan Allah kepada mereka. Namun ada karomah yang tinggi yang dmiliki oleh penduduk muslim Suriah.

“Saya akan ceritakan tentang karomah yang paling tinggi. Karomah yang paling tinggi itu bukan yang dimaksud ketika kita ditembak tidak mati. Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan A’zhamul karomah luzumul istiqomah, karomah yang paling besar adalah ketika seseorang diberikan istiqomah terhadap imannya. Itu bentuk karomah yang luar biasa. Dan ini pertama kali yang saya rekam sejak saya di sana. Bagaiamana saya melihat kondisi mereka yang sangat sulit” mulai Ustadz yang akan menceritakan tentang karomah muslimin Suriah.

Mereka hidup tak selayaknya sebagaimana yang kita rasakan. Kita bisa pergi dan pulang sesuka hati kita. Parkir mobil di tempat yang kita kehendaki. Ketika kita ingin makan, kita bisa berganti-ganti menu. Namun di Suriah, sejauh mata memandang itu layaknya kota mati. Taka banyak yang berada di luar, kecuali satu atau dua orang.

Setiap saat mereka dihujani roket tentara Bashar al-Assad. Namun dalam kondisi seperti itu, mereka tidak pernah mengeluarkan kata-kata keluhan, apalagi sampai menyalahkan mujahidin yang berjihad melawan Rezim Tiran Bashar al-Assad.

Pengalaman yang paling mengesankan, ketika berada di rumah sakit dan tiba-tiba terdengar suara gelegar roket yang jatuh dekat dengan bangunan rumah sakit. Rumah sakit di sana tidak diberikan tanda khusus. Dan kalau diberikan tanda khusus, maka tempat itu akan jadi sasaran tentara Bashar. Hantaman roket itu berdampak keras. Sampai engsel pintu lepas. Tetapi, mereka yang berada dalam ruangan selamat.

.......Yang sangat luar biasa menurut Ustadz Mita adalah ketika malam datang. Mereka semua berkunjung ke rumah ayah Abdullah untuk menyampaikan bela sungkawa. Apalagi setelah mengetahui bahwa kedua anak beliau telah syahid di jalan Allah. Istrinya pun gugur di bawah reruntuhan bangunan. Artinya dia hidup sebatang kara..... 

Meski demikian , 5 mujahidin yang berjaga - jaga di luar terkena serangan tersebut dan mengalami luka - luka . Ada salah seorang ikhwan yang terkena serangan itu , waktu subuh ikut berjamaah dengan rombongan Ustadz Umar . Namanya Abdullah Brimo . Orangnya baik , santu , putih dan sopan sekali . Ustadz Umar pun sempat bercanda dengannya kalau seandainya Ustadz punya anak perempuan akan dinikahkan dengannya .

Hari itu menjadi hari terakhir baginya . Abdullah termasuk yang dibawa ke rumah sakit untuk ditangani secara medis . Luka bagian depan nampak sangat kecil . Namun serpihan yang masuk ke dalam bagian tubuh akan menjebol bagian belakang dan akan membuat luka seperti pecahan . Para ikhwan pun nangis melihat kondisinya . Karena mereka merasakan kebaikan seorang Abdullah . Dokter sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatnya . Namun takdir Allah berbicara lain . Ia pun menghembuskan nafas terakhir .

....“Kalian mau apa? Kalau kalian hanya ingin takziyah dan mengucapkan belasungkawa, gak perlu. Kami akan menemui kalian di rumah sakit. Kalian kan biasanya orang yang berada di rumah sakit. Tapi kalau kalian ingin menguicapkan selamat, karena Allah telah memilih anak saya, maka silahkan” tutur bapak itu yang menghujam di hati Ustadz Umar..... 

Yang sangat luar biasa menurut Ustadz Mita adalah ketika malam datang. Mereka semua berkunjung ke rumah ayah Abdullah untuk menyampaikan bela sungkawa. Apalagi setelah mengetahui bahwa kedua anak beliau telah syahid di jalan Allah. Istrinya pun gugur di bawah reruntuhan bangunan. Artinya dia hidup sebatang kara.

Namun, saat Ustadz bersama tim datang mengunjungi rumah beliau untuk takziyah dan memberikan bantuan. Ketika sampai di rumah, Ustadz lulusan LIPIA itu kaget melihat rumahnya yang hanya 4x6 dan hanya ditutup dengan tirai. Tirai masjid dan musholla di Indonesia masih lebih bagus daripada milik orang tua itu. Padahal kondisi di sana sangat dingin sekitar 3 derajat. Kata-kata yang keluar dari Muslim sepuh Suriah itu mencengangkan.

“Kalian mau apa? Kalau kalian hanya ingin takziyah dan mengucapkan belasungkawa, gak perlu. Kami akan menemui kalian di rumah sakit. Kalian kan biasanya orang yang berada di rumah sakit. Tapi kalau kalian ingin menguicapkan selamat, karena Allah telah memilih anak saya, maka silahkan” tutur bapak itu yang menghujam di hati Ustadz Umar.

Kata-kata itu adalah kata-kata akidah. Yang tidak keluar4 kecuali dari kekuatan akidah antara seorang hamba dengan Rabbnya. Beliau mungkin bukan orang pesantren dan ahli agama. Namun akidahnya itu menunjukkan betapa besar keyakinan ia kepada Allah.setioap orang tua membayangkan akan dikuburkan anaknya. Namun orang tua ini berbeda. Dia kepingin menguburkan anaknya dalam keadaan syahid.

Dan beliau senang apabila ada yang membacakan Al-Qur’an atau hadits atau tentang kisah Nabi dan para sahabat. Utsadz punterdiam saat diminta untuk membacakan salah satu kisah sahabat. Bagaimana tidak tertegun. Orang yang kehilangan semua anggota keluarganya kini berusaha untuk membahagiakan tamu dan ingin dibacakan kisah sahbat. Lalu Ustadz Mita membacakan kisahnya Abdullah bin Harom ketika ia meninggal.

baru bapak itu tersenyum dan berkata, “Allah itu memilih anak saya karena Allah pasti tau bahwa tempat yang saya sediakan untuk anak saya itu tidak seberapa baiknya tempat yang Allah berikan untuk anak saya” tuturnya.[usamah]

Wednesday, April 23, 2014

Ketika Malaikat Ikut Berperang Bersama Mujahidin Melawan Tentara Bashar Assad

ADA kisah menarik dari relawan Hilal Ahmar Society Indonesia (hasi) yang baru saja berkunjung ke Suriah dan melakukan presentasi di gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Selasa (11/12/2012). Abu Yahya, koordinator relawan hasi menceritakan kisah seorang mantan tentara Bashar Assad yang taubat lalu bergabung dengan mujahidin.

Kepada mantan tentara itu, para mujahidin sempat bertanya kenapa para tentara Assad yang berjumlah 1500 personil di Jabal Akhrod tidak berani melakukan serangan ke mujahidin Suriah yang hanya berjumlah 150 personel, padahal baik secara kekuatan (jumlah) dan persenjataan, mujahidin jauh kalah dari tentara Assad.