Rasa Kantuk itu Ternyata Anugerah dan Karomah bagi Mujahidin
Oleh: Ahmed Widad
Oleh: Ahmed Widad
karomah-di-bumi-syam.blogspot.com - Rasa kantuk atau ngantuk pada dasarnya sesuatu yang bersifat naluriah, dialami oleh manusia. Wajar bila rasa kantuk itu datang ketika dalam keadaan santai atau dikala seseorang menjalani kehidupan normal dan biasa-biasa saja.
Tapi bagaimana mungkin rasa kantuk itu datang ketika nyawa seseorang dalam keadan terancam? Sebagian orang mungkin menilai hal itu mustahil.
Bagi Allah, tentu tak ada yang mustahil. Justru rasa kantuk yang datang di saat-saat menegangkan itu merupakan anugerah atau nikmat bagi hambaNya yang tengah berjihad fi sabilillah.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imran ayat 154
Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah…
Di sinilah uniknya, dalam situasi perang yang tak seimbang dimana kekuatan musuh jauh lebih besar, Allah menganugerahkan ketenangan dan keamanan kepada hamba-hambaNya yaitu berupa kantuk yang menghinggapi mereka ketika mereka masih memanggul senjata, pada saat di mana mereka masih bersedih dan berduka. Rasa kantuk dalam kondisi demikian itu menciptakan rasa aman.
Al-Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut
“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu.”
Yakni orang-orang yang penuh keimanan, keyakinan, keteguhan dan tawakkal yang sungguh-sungguh. Dan mereka benar-benar yakin bahwa Allah akan menolong Rasul-Nya dan mengabulkan permohonannya.
Sedangkan firman Allah
“Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri.”
Yaitu, golongan ini tidak dihinggapi rasa kantuk (yang melindungi mereka) dari kecemasan, kegelisahan dan ketakutan.
Ayat senada juga Allah firmankan dalam dalam surat Al-Anfal berkenaan dengan kisah perang Badar.
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Q.S. Al-Anfal: 11).
Dalam hadits dikisahkan:
Kami mendapati rasa kantuk yg sangat pada waktu kami dalam barisan perang Badar, lalu Abu Thalhah berkata, ‘sehingga pedangku terjatuh dari tanganku, lalu aku mengambilnya, lalu jatuh kembali dan kembali aku mengambilnya. ‘ [HR. Bukhari No.4196].
Sufyan Ats Tsauri berkata dari ‘Ashim dari Abu Razin, dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa ia berkata; “Rasa kantuk dalam peperangan adalah rasa aman yang datangnya dari Allah Ta’ala, sedangkan rasa kantuk dalam shalat datangnya dari syaitan.” Qatadah berkata; “kantuk itu ada di kepala, sedangkan tidur ada di hati.”
Al-Imam Ibnu Katsir pun kembali menegaskan dalam menafsirkan surat Al-Anfal ayat 11 di atas:
“Kantuk itu telah menimpa kaum mukminin pada perang Uhud dan hal ini sangatlah terkenal, adapun ayat yang mulia ini tidak lain berbicara dalam konteks kisah perang Badar, ini menunjukkan rasa kantuk pun terjadai pada perang Badar dan seakan hal ini terjadi pada orang-orang beriman di saat-saat berkecamuknya peperangan, agar hati mereka menjadi tenang dan tenteram dengan pertolongan Allah dan hal ini adalah anugerah, kasih sayang dan kenikmatan dari Allah kepada mereka, sebagaimana firmanNya:
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S. Alam Nasyrah: 5-6). “
Subhanallah, ternyata turunnya rasa kantuk kepada para mujahidin yang tengah berperang tak hanya terjadi di masa Rasulullah dan para sahabat, tetapi juga terjadi dalam peperangan masa kini.
Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Asy Syahid (insya Allah) Syaikh Abdullah Azzam dalam kitabnya yang masyhur, Ayaturrahman fi jihadil Afghan. Beliau pun menganggap bahwa turunnya rasa kantuk itu merupakan bagian dari karomah.
“Adapun dengan rasa kantuk yang muncul, itu adalah untuk memberikan waktu istirahat bagi jiwa dan menumbuhkan rasa aman di dalam hati mereka serta mengokohkan kaki-kaki mereka. Allah SWT berfirman,
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentramanan daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). (QS. Al Anfal: 11)
Berapa banyak mujahidin Afghanistan yang bercerita kepada saya bahwa dia tertidur di bawah peluru-peluru yang menyerbu dari senjata-senjata berat dan juga geranat dan bom yang dilemparkan dari pesawat-pesawat tempur. Kemudian setelah itu dia bangun dengan semangat baru dan cita-cita yang tinggi serta seketika itu rasa sedih dan takut hilang, padahal sebelumnya menyelimuti hati mereka !!
Allah SWT menguatkan hati mereka dengan karomah-karomah yang turun. Cobalah perhatikan ayat di dalam firman Allah SWT, pada kalimat :
…dan untuk menguatkan hatimu…
Hati ini seakan-akan sedang memikul beban berat tanpa ada pengikat dan pengokoh beban tersebut, yang semestinya dibawa oleh seekor unta atau hewan tunggangan. Kemudian karomah-karomah itu datang menguatkan dan meneguhkan hati kami sehingga hilang rasa takut dan gelisah.” Demikian penuturan Syaikh Abdullah Azzam, sang pionir jihad abad dua puluh.
Tak diragukan lagi, rasa kantuk yang terkadang dianggap sebagai fenomena biasa, naluriah bahkan dianggap remeh, ternyata merupakan rahmat dari Allah kepada para mujahidin dan tentu tak setiap orang Allah karuniakan rasa kantuk tersebut kecuali mereka yang dikehendakiNya. Semoga ulasan singkat ini bisa diambil hikmahnya. Wallahu a’lam.
